Rabu, 27 Juni 2012


TEKNIK RETORIKA DI DEPAN PUBLIK *
Oleh : A. Arif Rofiki, M.Pd.I **

A.  Pendahuluan
Salah satu karunia besar yang diberikan Allah kepada manusia adalah kemampuan berbicara dan mengungkapkan pikiran kepada orang lain. Hal ini membuat manusia memiliki kelebihan dibanding makhluk Allah yang lainnya, karena manusia mampu berkomunikasi secara jelas tentang apa saja yang ingin disampaikannya pada orang lain. Kelebihan itupula yang membuat manusia bisa menjalin komunikasi dalam rentang zaman yang panjang sampai sekarang.
Dalam literatur sejarah yang ada, teknik berbicara sudah dipelajari manusia sejak zaman Yunani dan Romawi kuno. Ilmu tersebut dikenal dengan nama ilmu retorika. Umur ilmu ini setua eksistensi manusia di muka bumi. Pada masa itu, selain dengan perang, retorika menjadi alat untuk mempertahankan eksistensi kekuasaan kerajaan dari serangan musuh. Misalnya, kasus persengketaan tanah kerajaan diselesaikan dalam ruang debat terbuka yang dihadiri banyak massa. Yang paling unggul dan menang adalah pihak yang terampil dalam ilmu retorika. Itu artinya yang memenangkan perkara tidak pada salah benarnya suatu kasus. Namun yang menang yaitu pihak yang paling cerdas bersilat lidah, karena saat itu orang belum kenal dunia pengacara seperti zaman sekarang.
Kata retorika mengingatkan kita pada tokoh sejarah yang luar biasa, seperti: Soekarno, presiden pertama Indonesia yang dalam setiap orasinya selalu bisa menghipnotis massa yang luar biasa banyak; atau Hitler, yang terkenal kejam tetapi dunia mengakui kemampuan retorikanya. Salah satu statemen Hitler yang terkenal ialah: “setiap gerakan besar di dunia ini dikembangkan oleh ahli-ahli pidato dan bukan oleh jago-jago tulisan”. Atau dalam bahasa Jerman “jede grosse bewegung auf dieser erde verdankt ihr wachsen den grosseren rednern und nicht den grossen screibern”.
Jadi retorika memiliki peran penting yang harus dipelajari. Seorang filsuf dari negeri China mengatakan:”Orang yang menembak banyak, belum tentu seorang penembak yang baik. Orang yang berbicara banyak tidak selalu berarti seorang yang pandai bicara.” Bicara memang adalah bakat bawaan setiap orang. Namun ketrampilan retorika dengan baik dan benar membutuhkan latihan tersendiri.

B.  Pengertian Retorika
Retorika (rethoric) biasanya disinonimkan dengan seni atau kepandaian berpidato. Sedangkan tujuannya adalah, menyampaikan fikiran dan perasaan kepada orang lain agar mereka mengikuti kehendak kita.
Menurut Aristoteles, Dalam retorika terdapat 3 bagian inti yaitu :
1.      Ethos (ethical): yaitu, karakter pembicara yang dapat dilihat dari cara ia berkomunikasi.
2.    Pathos (emotional): yaitu, perasaan emosional khalayak yang dapat dipahami dengan pendekatan “psikologi massa”.
3.      Logos (logical): yaitu, pemilihan kata atau kalimat atau ungkapan oleh pembicara.

C.  Latihan Retorika
Pada masa sebelum masehi (Yunani dan Romawi kuno), menjadi orator ulung membutuhkan kerja keras yang tidak mudah. Biaya yang harus dikeluarkan untuk belajar ilmu ini dari guru-guru retorika terkenal sangat mahal. Karena itu hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menguasai ilmu ini, semisal orang yang mempunyai kasta tinggi dan kalangan elit kerajaan saja. Banyak dari para orator ulung yang harus belajar berpuluh-puluh tahun dengan cara mengisolasi diri di gua demi mendalami ilmu retorika. Di dalam gua mereka belajar berolah vokal mulai dari intonasi suara hingga gerak-gerik dan mimik wajah diselaraskan dengan suara yang ada. Hasil yang diperoleh selama upaya itu sangat signifikan. Mereka turun dari gua dengan menguasai kota-kota dan kerajaan dengan keahlian retorika yang mengagumkan.
Pada zaman sekarang, belajar untuk bisa berbicara di depan publik menyampaikan gagasan kita pada orang tidak sesusah dan se-elit zaman dulu. Sekarang ilmu itu kini dapat dipelajari oleh siapapun dengan dua cara, yakni:
1. Membangun keterampilan berbicara di depan publik dengan memahami tekniknya yang meliputi persiapan dan penyampaian.
2.  Latihan pidato di depan kawan-kawan, keluarga, bahkan hewan peliharaan, atau siapa saja yang bisa mendengarkan; di depan cermin; menggunakan recorder.
Persiapan
1.    Persiapan Mental
a.   Rileks! Atasi gugup dengan menarik nafas panjang/dalam; menggerakkan badan; berdiri tegak layaknya tentara berbaris dengan bahu dan dada yang tegap, lalu tersenyumlah!
b.         Know the room! Jadikan seakan-akan panggung adalah kamar Anda sendiri.
c.         Know the audience! Kenali karakteristik dan pandang mereka sebagai teman akrab.
d.        Know your material! Anggaplah Anda yang paling tahu.
2.    Persiapan Fisik
a.         Pastikan kondisi badan dan suara fit, segar, dan normal.
b.         Kenakan pakaian yang serasi dengan susana acara.
c.    Jabatlah tangan Anda agar darah mengalir yang membuat gerakan tangan Anda lebih alami saat berbicara di podium.
d.        Jaga agar mulut dan tenggorokan Anda tetap basah. Siapkan selalu air mineral.
3.    Persiapan Materi
a.         Baca literatur dan cari sumber data sebanyak mungkin. Semakin banyak pengetahuan dan wawasan, Anda pun kian percaya diri.
b.         Susun outline (garis besar materi).
c.         Ada empat pilihan penguasaan materi, yakni: membaca naskah, menggunakan catatan yang berupa garis besar materi (ini cara terbaik), menggunakan hapalan (pilihan terburuk karena komunikasi dengan audiens berkurang, terutama soal kontak mata), dan menggunakan alat bantu visual sebagai catatan.
Pembukaan
1.    Mulai dengan kalem (jangan tergesa-gesa)
2.    Teknik pembukaan antara lain: langsung menyebut pokok persoalan yang akan dibicarakan; mengajukan pertanyaan provokatif; menyatakan kutipan (teori, ungkapan, peristiwa, atau pepatah).
Penyampaian
1.  Teknik pemaparan: deduktif (dari gagasan utama ke perincian atau dari teori ke empiris); induktif (dari kasus ke kesimpulan atau dari empiris ke teori); kronologis atau urutan peristiwa.
2.    Bicaralah dengan suara yang agak keras agar cukup terdengar (audible).
3.   Ucapkan setiap kata dengan jelas (clarity).
4.  Gunakan kata berona (colorfull word) yang melukiskan sikap, perasaan, dan keadaan. Misalnya, kata terisak-isak lebih berona daripada kata menangis
Penutup
1.   Langsung tutup, ucapkan salam, jika materi pembicaraan sudah disampaikan atau waktu sudah habis.
2.  Teknik penutup dengan cara menyimpulkan, menyatakan kembali gagasan utama dengan kalimat berbeda, mendorong audiens untuk bertindak, membaca kutipan sajak, kitab suci, peribahasa, atau ucapan seorang ahli, dll.

D.  Unsur-Unsur Retorika di Depan Publik
1.    Teknik Vokal
a.    Intonasi, yakni: nada suara, irama bicara, atau alunan nada dalam melafalkan kata-kata.
b.  Aksentuasi, yakni: logat/dialek. Lakukan stressing (penekanan) pada kata-kata tertentu yang dianggap penting.
c.    Kecepatan. Jangan bicara terlalu cepat.
d.   Artikulasi, yakni kejelasan pengucapan kata-kata.
2.    Kontak Mata
a.    Pandang seluruh audiens!
b.    Pandang tepat pada matanya!
3.    Gerakan Tubuh
a.  Gerakan tubuh meliputi: ekspresi wajah, gerakan tangan, lengan, bahu, mulut atau bibir, gerakan hidung, kepala, badan, dan kaki.
b.    Alami, spontan, wajar, atau tidak dibuat-buat.
c.    Penuh, tidak sepotong-sepotong, atau tidak ragu.
d.   Sesuai dengan kata-kata.
e.    Gunakan untuk penekanan pada poin penting,
f.     Jangan berlebihan.
g.    Gerakan tubuh yang paling penting adalah SENYUM.
h.    Variatif, jangan monoton. Misalnya terus-menerus mengepalkan jari tangan di atas.
i.    Jangan melakukan gerakan tubuh yang tidak bermakna atau tidak mendukung pembicaraan seperti: memegang kerah baju, memainkan mikropon, meremas-remas jari, dan menggaruk-garuk kepala. 

E.  Kiat Mengatasi Kegugupan Retorika di Depan Publik
Tidak jarang sikap gugup atau demam panggung dialami seseorang dalam presentasi atau ceramah yang ia sampaikan. Mereka yang mengalami masalah itu datang dari siapa saja. Tidak saja pada orang-orang biasa. Namun pada mereka yang terbiasa berbicara atau berpidato pun bisa mengalami demam panggung. Mereka bisa berbicara lancar pada waktu biasa. Atau tidak gugup bicara di depan teman-teman sendiri. Namun pada saat bicara di depan khalayak banyak penyakit demam panggung ini baru muncul. Berikut adalah gejala-gejala kegugupan berbicara di depan publik: (1) detak jantung cepat; (2) telapak tangan atau punggung berkeringat; (3) napas terengah-engah; (4) mulut kering dan sukar menelan; (5) ketegangan otot dada, tangan dan kaki; (6) tangan atau kaki bergetar; (7) suara bergetar dan parau; (8) berbicara cepat dan tidak jelas; (9) tidak sanggup mendengar atau konsentrasi; dan (10) lupa atau ingatan hilang.
Gejala-gejala kegugupan yang bisa merusak presentasi dan ceramah di atas harus bisa dihilangkan. Dalam banyak kasus kegagalan seorang pembicara yang tidak mendapat respon audiens dikarenakan penyakit itu. Para pakar public speaking lazimnya memberi tips sebagai berikut guna mengatasi rasa gugup berbicara di depan umum.
1.    Lakukan relaksasi agar tubuh rileks, santai, tidak tegang.  Ambil nafas dalam-dalam, melalui hidung, tahan sebentar, lalu keluarkan perlahan-lahan melalui mulut. Pada saat yang sama, lemaskan lengan, bahu, dan tangan (biarkan semuanya terkulai). Ulang berkali-kali sebelum tampil.
2.  Lakukan relaksasi suara, misalnya dengan menyuarakan vokal AEIOU secara naik-turun, ragam nada, mirip nyanyi.
3.   Sering berlatih, di depan cermin atau di depan kawan-kawan terdekat, bahkan di depan hewan peliharaan Anda. Sering ikut terlibat dalam diskusi juga sangat bagus untuk berlatih retorika di depan publik.
4.  Lakukan persiapan, baik fisik, mental, dan materi. Fisik harus fit. Mental harus kuat, percaya diri, dan anggaplah diri Anda yang paling tahu dan orang lain ingin tahu apa yang Anda ketahui. Siapkan data dan referensi topik pembicaraan sebanyak mungkin. Semakin luas wawasan, Anda semakin percaya diri.

F.   Penutup
Keterampilan retorika yang tepat dan benar serta diterima audiens harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin presentasi dan ceramahnya diterima publik. Untuk memiliki keterampilan ini perlu memahami tekniknya mulai meliputi persiapan dan penyampaian, karakteristik audiens, dan yang tidak kalah pentingnya adalah latihan/praktik yang kontinyu. Iso jalaran soko kulino (bisa karena terbiasa), dengan kata lain semakin sering keterampilan diasah, maka semakin cepatlah Anda menjadi retorikan yang ulung.


*   Makalah ini disampaikan dalam Latihan Dasar Kepemimpinan Remaja Masjid yang diselenggarakan oleh
       Remaja Masjid Fajrul Islam Kotaraja Jayapura, Tanggal 24 Juni 2012.
** Penulis adalah Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) AL-Fatah Jayapura.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar